Minggu, 15 Juni 2014

Lubuk Tajau Telah Merdeka



Penduduk Desa Lubuk Tajau segera menggelar syukuran atas menyalanya lampu bertenaga air yang populer disebut Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).  Banyak dari mereka masih kurang percaya bahwa jerih payah keringat dan uang yang mereka ‘investasikan’ selama ini berbuah nyata. Ya! Keberhasilan pembangunan PLTMH sangat bergantung pada swadaya yang mereka berikan berupa material lokal, tenaga dan uang. Sudah dua malam ini desa mereka terang sepanjang malam.  Hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi bahkan sejak Indonesia merdeka. Euforia kegembiraan masih kental terasa siang itu di bendungan intake PLTMH yang telah mereka bangun sendiri. Puluhan lemang dihidangkan.  Lemang adalah penganan khas dari ketan dicampur santan yang dibakar di dalam tabung bambu. Ayam bakar dan telur rebus menemaninya. Tentu tak lengkap tanpa tuak yang edarkan untuk diteguk secara bersama-sama.

 Membakar lemang
 
 Lemang dan lauk-pauk tanda syukur

Wajar jika penduduk desa menumpahkan kegembiraan mereka. Mengingat sejak awal program Kampung Energi yang di fasilitasi oleh Lembaga Energi Hijau mendapat tantangan dari sebagian mereka yang lebih menginginkan PLN hadir di sini. Baca : Pilih PLN atau PLTMH?. Ternyata pilihan mereka terhadap PLTMH akhirnya tepat jika melihat kenyataan bahwa hingga sekarangpun tidak ada kepastian dari berbagai pihak mengenai masuknya perusahan listrik negara tersebut di desa - entah sampai kapan.

Lubuk Tajau yang kini telah mandiri energi listrik merupakan salah satu dari ribuan pemukiman terpencil di Kalimantan Barat yang masih belum memiliki akses listrik negara.  Memilih PLTMH sebagai alternatif energi listrik harus mendapatkan prioritas dan dukungan dari semua pihak.  Apalagi jika dampak yang ditimbulkan oleh sebuah pembangunan PLTMH sangat menyentuh sendi-sendi kehidupan bermasyarakat di perdesaan.  Baca : Kearifan Lokal Menuju Kemandirian Energi.
 
Menyalakan listrik menggunakan turbin air

Sekarang menjadi tugas seluruh penduduk desa untuk memastikan bahwa PLTMH yang telah berhasil dibangun mampu lestari beroperasi dan mendatangkan manfaat bagi mereka. Lestarinya PLTMH tentu bertumpu pada lestarinya air sebagai ‘bahan bakar’ utama penggerak generator 50 kV yang mereka miliki. Lestarinya air tidak terpisahkan dari lestarinya kawasan hutan sebagai pundi-pundi penyimpanan air di sepanjang musim. Sehingga slogan sederhana yang berbunyi  ‘Hutan Hilang – Air Pergi, Air Pergi – Listrik Mati’ akan dijadikan landasan dan tanpa disadari mereka telah menjadi relawan di barisan terdepan dalam upaya-upaya pelestarian hutan dan lingkungan.  Selamat menikmati malam-malam yang terang bagi seluruh penduduk desa Lubuk Tajau.  Semoga kehadiran PLTMH dapat lebih mensejahterakan dan membawa banyak harapan bagi semua pihak dan negeri ini.

Sabtu, 14 Juni 2014

Kearifan Lokal Menuju Kemandirian Energi

Di era globalisasi ini kebutuhan akan listrik sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sejalan dengan perkembangan sosial, budaya dan ekonomi serta informasi, energi listrik telah menjadi salah satu kebutuhan pokok. Ya! Tak dapat dipungkiri bahwa energi listrik mempunyai peranan penting dalam pencapaian tujuan sosial dan ekonomi.

Namun kemampuan Negara melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN), untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi seluruh penduduk Indonesia adalah problem lama yang sepertinya juga akan lama untuk penyelesaiannya. Dibatasi dengan kapasitas listrik yang tersedia ditambah dengan rentang jarak dan tofografi pemukiman penduduk, alhasil hingga saat ini masih ada 10.211 desa di republik ini yang sama sekali belum mencicipi hangatnya listrik negara (Detik.com 13/6/13). Di sisi lain Indonesia secara umum mememenuhi kebutuhan energi listrik dari minyak bumi dan batu bara, dengan persediaan yang semakin menipis dan harga yang semakin tinggi dapat dikatakan bahwa hal ini berpeluang  pada terjadinya krisis energi.

Salah satu sudut desa terpencil tanpa akses listrik negara

Sebenarnya ada banyak pilihan bagi desa-desa yang belum menikmati listrik PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka sendiri.  Dan yang paling mudah adalah dengan genset (generator set) bertenaga diesel. Alat peminum solar ini tidak sulit diperoleh di pasar manapun hingga di kecamatan terpencil. Meskipun akhirnya mereka mendapatkan listrik, namun kemudahan ini harus diimbali dengan tidak murah. Selain hanya golongan masyarakat yang mampu saja yang membeli, harga BBM solar yang dapat mencapai hingga 3 (Tiga) kali lipat dari harga resmi SPBU otomatis akan berbuah pada biaya operasional yang mahal. Pun terkadang solar sulit didapat.  Sungguh ironis dengan kenyataan bahwa sebenarnya warga negara seperti merekalah yang paling berhak menerima subsidi BBM.  Alhasil untuk menghemat BBM, listrik hanya dinyalakan maksimal 2 atau 3 jam setiap malamnya.  Walau kenyataannya lebih banyak mereka menjalani malam dalam kegelapan sebab tak mampu membeli solar atau solar ‘menghilang’.

Maka adanya alternatif penyediaan energi listrik bagi masyarakat perdesaan adalah keniscayaan. Dan energi alternatif yang patut di kembangkan adalah PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) yang memanfaatkan sumber daya alam berupa terjunan air. PLTMH dijadikan pilihan karena rerata pemukiman di daerah terpencil banyak memiliki potensi air. Memang biaya investasi untuk membangun PLTMH  berbanding dengan jumlah  penerima manfaat dirasakan mahal saat ini, sehingga banyak potensi yang belum termanfaatkan. Namun jika dikaji lebih jauh, biaya investasi tersebut sebenarnya memberikan hasil  yang tidak ternilai. Dengan kata lain, biaya yang dikeluarkan akan terasa kecil dibandingkan dengan dampak yang begitu besar bagi sendi-sendi kehidupan masyarakat penerima manfaat di perdesaan.

Potensi hidrolika yang masih termanfaatkan

Salah satu yang tidak dapat dipungkiri adalah kesadaran akan ketersediaan air sebagai sumber tenaga penggerak PLTMH.  Pemahaman akan kontinuitas air berbanding lurus dengan keharusan lestarinya hutan sebagai kawasan penyangga air telah berhasil merasuki pikiran mereka yang merasakan manfaat PLTMH.  Konservasi daerah aliran sungai secara sadar dilakukan demi menjamin debit air yang stabil sepanjang tahun. Pada beberapa tempat bahkan diterapkan aturan adat guna mengamankan kawasan hutan.  Memang adat terbukti efektif. Tidak ada lagi yang berani membuka lahan untuk berladang di kawasan konservasi bahkan untuk menebang sebatang pohon. Lahan terbuka bekas ladang lama segera dihutankan kembali. Meskipun begitu bukan berarti hutan menjadi terlarang untuk dimanfaatkan. Menggalakkan pemanfaatan hutan selain kayu atau yang populer disebut Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) menjadi primadona. Hasil hutan seperti rotan, bambu, buah-buahan atau madu hingga perikanan air tawar yang selama ini kurang tergarap menjadi bernilai ekonomis karena dibarengi dengan pelatihan-pelatihan ketrampilan untuk memanfaatkannya.

Swadaya masyarakat diperlukan untuk menekan biaya pembangunan PLTMH. Material lokal seperti batu, pasir dan kayu diadakan secara gotong royong. Tenaga kerja diatur sedemikian rupa sehingga terbentuk kelompok-kelompok kerja yang akan turun secara bergiliran sehingga tidak akan mengganggu hari kerja mereka dalam mencari nafkah. Jangka waktu pembangunan PLTMH yang rerata berlangsung hingga 4 (empat) lamanya menjadikan swadaya sebagai perekat yang kuat bagi harmonisasi hubungan antar individu masyarakat. Seluruh pekerjaan dilakukan secara bersama-sama, permasalahan dan kendala yang dihadapi dirembugkan dan dicari jalan pemecahannya secara bersama pula.  Keinginan untuk menyukseskan pembangunan PLTMH menjadi serentak pula. Kebersamaan sejak progress pekerjaan 0% hingga mencapai 100% berhasil pula merapatkan jejari hubungan sosial kemasyarakatan yang cenderung melonggar.

 Swadaya bersama untuk mencapai tujuan

Pengetahuan mengenai skema PLTMH perlahan mulai terpateri.  Sejak dari pembangunan bendungan intake, saluran pembawa, pipa pesat, turbin pembangkit listrik, rumah turbin, kabel transmisi listrik hingga instalasi listrik di dalam rumah semua dikerjakan oleh masyarakat dibawah bimbingan seorang tenaga ahli.  Tak terbayangkan sebelumnya bagi mereka bagaimana caranya membendung sungai yang deras.  Namun sekarang mereka memiliki ketrampilan tersebut.  Demilkian pula dengan hal-hal yang terkait dengan kelistrikan seperti memasang dan menyambung kabel secara benar dan aman.

PLTMH terbukti murah dalam pengoperasiannya, karena tidak memerlukan BBM. Listrik yang tersedia sepanjang waktu tentu memicu geliat kegiatan ekonomi produktif. Masyarakat setempat mendapatkan sumber listrik untuk mendukung akses informasi dan peningkatan ekonomi produktif rumah tangga. Hal ini akan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat yang terus meningkat.  Dan tak kalah penting adalah penghematan yang cukup besar dengan digantikannya genset oleh PLTMH.  Jika hitung dari jumlah genset yang diistirahatkan maka rerata setiap desa penerima manfaat PLTMH berhasil menghemat solar sebanyak 3.000 liter per bulan.  Jika diuangkan dengan harga jual solar Rp. 14.000,- di desa ada Rp. 42.000.000,- perdesa setiap bulannya yang mampu di hemat. Pengeluaran yang berkurang untuk solar ini tentunya dapat dialokasikan untuk pendidikan atau kesehatan masyarakat. Selain berhasil menghemat BBM yang berarti turut mendukung program pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM, PLTMH secara tidak langsung juga berhasil mengurangi polusi udara dan polusi suara yang ditimbulkan oleh genset selama ini.

Bahwa bagian terpenting dari keberhasilan pembangunan PLTMH justru terletak pada pelestariannya sangat dipahami oleh masyarakat. Terbentuknya badan pengelola PLTMH harus dipastikan untuk menjamin hal tersebut.  Badan Pengelola haruslah terdiri dari orang-orang pilihan dan dipilih sendiri oleh masyarakat. Pelatihan-pelatihan diberikan bahkan sejak pembangunan PLTMH baru dimulai. Keterampilan mengenai adminsitrasi hingga pengoperasian dan pemeliharaan PLTMH ditularkan secara permanen.  Aturan dan sanksi dibuat dan diterapkan bersama. Munculnya iuran merupakan konsekuensi bagi penerima manfaat listrik. Iuran yang terhimpun dipergunakan untuk biaya operasional seperti honor pengurus dan sisanya ditabung sebagai cadangan jika terjadi kerusakan pada skema PLTMH. Sehingga masyarakat menjadi mandiri dalam pengelolaan dan pelestarian PLTMH.

Hal lain yang tidak kalah penting dari semua yang tersebut di atas adalah kemandirian energi listrik mampu menumbuhkan rasa setara bagi masyarakat desa akan akses listrik yang murah. PLTMH turut membantu pemerintah bagi penyediaan listrik di daerah-daerah terpencil yang sulit terjangkau oleh PLN. Slogan “Hutan Hilang – Air Pergi, Air Pergi – Listrik Mati” menjadi alasan yang kuat bagi masyarakat penerima manfaat untuk bergiat melakukan pelestarian hutan sebagai kawasan penyangga air.  PLTMH patut dipandang sebagai pintu masuk bagi upaya-upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan perlindungan lingkungan sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat.   Pembangunan PLTMH ternyata banyak memuat nilai-nilai kearifan lokal dan berhasil menjadikan desa sebagai basis energi listrik mandiri. Maka jika Pemerintah dan pihak peduli lainnya fokus membangun titik-titik basis energi listrik mandiri lainnya, permasalahan penyediaan listrik bagi daerah-daerah terpencil sepertinya akan dapat teratasi.

Jumat, 02 Mei 2014

Indonesia Merdeka Sekali Lagi Karena Listrik


Seseorang memekikkan kata "Merdeka!!!". Disambut teriakan yang sama oleh sekelompok orang sambil mengangkat tangan yang dikepalkan dengan bersemangat. Mereka yang pagi itu berkerumun di rumah turbin patut merasa 'merdeka' manakala ujicoba pertama kali PLTMH berhasil menyalakan lampu di dusun mereka yang terpencil ini. Setelah menunggu puluhan tahun lamanya semenjak negara tercinta ini dinyatakan merdeka, barulah sekarang mereka mencicipi nikmatnya penerangan listrik semalam suntuk. Betapa sangka, dikarenakan kondisi lokasi nan terpencil, bahkan tidak dalam 10 tahun kedepan PLN akan masuk ke daerah ini. Tak heran jika kemudian mereka menancapkan bendera merah putih di bendungan dekat rumah turbin untuk memproklamirkannya.

Sejak awal tahun 2014 ini, sebanyak 97 KK penduduk Dusun Sebeneh yang di Desa Sungkung Akit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat ini sudah boleh merasa sejajar dengan desa-desa lain yang memiliki akses listrik PLN.  PLTMH berkekuatan 30 kW berhasil dibangun di dusun yang terletak di tepi pagar perbatasan Malaysia ini. Bersumber dari dana PNPM-MPd dan swadaya masyarakat, dengan fasilitasi dari Lembaga Energi Hijau berhasil mewujudkan mimpi mereka akan akses terhadap listrik.

Semoga desa-desa lain di negeri tercinta ini yang belum "merdeka" listrik, juga segera mendapatkan hak untuk menikmati listrik secara murah dan terjangkau.

Baca juga : PLTMH Senebeh

Menaikkan bendera di bendungan tanda "Merdeka"

Terletak di tepi pagar negara tetangga Malaysia

Turbin PLTMH type Crossflow.

Minggu, 16 Februari 2014

Ayo! Bangun PLTMH di Kalimantan Barat

Hingga saat ini masih ada 779 Desa terpencil di Kalimantan Barat yang belum memiliki akses listrik PLN (Pontianak Post 19/08/13).  Penyebab terbesar adalah kondisi topografi pedalaman Kalimantan Barat yang jauh dan sulit terjangkau selain dari ketersediaan daya listrik daerah yang belum memadai.
Menggantungkan kebutuhan listrik rumah tangga pada genset tenaga diesel berbahan bakar solar memang mudah, tapi tidak murah. Sebagian besar penduduk desa tidak mampu untuk membeli genset.  Kalaupun ada yang mampu, pasti kesulitan untuk membeli solar yang mahal dan kadang-kadang langka di desa mereka.  Mengharapkan jaringan listrik PLN masuk atau melintasi desa mereka terasa jauh diawang-awang, bahkan tidak dalam waktu 10 tahun ke depan.  Miris!
Tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa Kalimantan Barat memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah dan dapat dijadikan energi alternatif pengganti listrik atau biasa diistilahkan dengan Energi Terbarukan. Potensi berupa air terjun yang banyak terdapat di daerah perhuluan inilah yang menjadi tenaga penggerak Permbangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Kalaupun ada yang hendak memanfaatkan potensi ini biasanya terbentur dengan pengetahuan teknologi atau biaya yang relatif mahal.  Kondisi seperti inilah yang menyebabkan Lembaga Energi Hijau (LEH) merasa terpanggil untuk membantu saudara-saudara kita yang tidak memiliki akses PLN namun memiliki potensi air terjun.
Sesuai dengan visi dan misinya, LEH akan memfasilitasi daerah atau desa/dusun yang hendak membangun PLTMH.  Desain awal PLTMH sangat tergantung pada debit air dan tinggi jatuh terjunan.  LEH akan melakukan survey pendahuluan untuk memastikan kelayakan potensi air. PLTMH baru akan dibangun jika potensi air dinyatakan layak oleh Tim survey. Sumber biaya pembangunan PLTMH pun dapat disusun dalam beberapa skema pendanaan seperti dari APBD setempat, Hibah dari Lembaga Donor, Pinjaman dari Lembaga Keuangan Lokal/CU, Swadaya masyarakat atau kombinasi dari sumber-sumber tersebut.
Namun hal terbaik dari terbangunnya sebuah PLTMH selain dari terpenuhinya akses listrik murah bagi masyarakat desa adalah terbukanya pintu masuk bagi upaya-upaya kelestarian alam dan kenekaragaman hayati. Slogan khas LEH yaitu : "Hutan Hilang - Air Pergi, Air Pergi -Listrik Mati" akan melecut semangat untuk menjaga hutan sebagai benteng terakhir tersedianya air sepanjang tahun di desa-desa bahkan hingga ke hilirnya.
Ayo! Bangun PLTMH di Kalimantan Barat.  Mari dukung pembangunan PLTMH di daerah-daerah terpencil.  Hubungi Lembaga Energi Hijau. Hp. 081345039789 /081345719119 /08125758969. Email : lembagaenergihijau@yahoo.com.

Ketersedian air sepanjang tahun 

Debit air dan beda tinggi

Kelayakan potensi air terjun

Pengumpulan data dan pengukuran lapangan

 Pengukuran debit air secara detail

Turbin PLTMH

Pilih PLN atau PLTMH?

Pilih PLN atau PLTMH?. Penduduk Desa Lubuk Tajau dalam situasi sulit untuk menentukan pilihan. Hal ini terungkap dalam pertemuan musyawarah desa yang difasilitasi oleh Tim Lembaga Energi Hijau (LEH).  Keinginan yang begitu kuat untuk mendapatkan listrik murah membuat penduduk desa berupaya dengan segala cara.  Maklum selama ini mereka mengandalkan listrik pada genset tenaga diesel berbahan bakar solar yang mahal dan sulit di dapatkan di desa. Selain menggandeng LEH untuk mencari donatur bagi pembangunan PLTMH di desa, mereka juga mengajukan proposal kepada PLN agar Lubuk Tajau segera dialiri listrik.  Alhasil ketika Tim menyampaikan bahwa proposal PLTMH mereka disetujui pendanaannya oleh Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, tidak serta merta menggembirakan. Pasalnya beberapa hari sebelum pertemuan telah datang ke desa mereka pihak yang menjanjikan dapat mendatangkan listrik PLN.  Hanya dengan mengumpulkan KTP dan uang untuk penyambungan listrik ke rumah, maka kabel listrik PLN segera ditarik ke desa dan lampu akan menyala. Pendapat peserta pertemuan terbelah antara memilih PLTMH atau PLN. Sebab dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Alhasil diambil keputusan pertemuan ditunda 1 (Satu) minggu untuk memberikan kesempatan penduduk desa menentukan pilihan secara bulat.  Beberapa dari mereka akan meninjau PLTMH di daerah terdekat yang sudah pernah difasilitasi pembangunannya oleh LEH. Sementara yang lain akan meminta kepastian pihak PLN kapan listrik masuk desa.


Seluruh peserta musyawarah setuju PLTMH

Pertemuan musyawarah desa berikutnya yang dilaksanakan pada awal Januari 2014 segera mendapatkan jawaban yang bulat. Disebabkan karena belum ada kepastian dari PLN masuk desa bahkan dalam satu tahun ke depan, ditambah kesaksian dari mereka yang berkunjung ke PLTMH terdekat, maka seluruh peserta pertemuan yang berjumlah 93 orang secara bulat menyepakati memilih PLTMH. Kesepakatan untuk memilih PLTMH disadari berbuah konsekuensi. Maka agenda pertemuan selanjutnya  adalah 'review ' komitmen swadaya yang sudah mereka tuangkan dalam proposal PLTMH sebelumnya. Material lokal seperti batu dan pasir langsung dibagi kubikasinya masing-masing KK untuk pengadaanya. Sementara pihak desa akan menyiapkan dana untuk pembelian generator, semen dan kabel sekunder. Uang untuk titik lampu dalam rumah akan ditanggung masing-masing KK.  Pengumpulan uang dilakukan secara bertahap. Dana hibah dari GEF SGP Indonesia sebagian besar dialokasikan untuk turbin, pipa pesat dan kabel primer.

Menandatangani Berita Acara Musyawarah

Pada musyawarah kali ini turut disosialisasikan bahwa program yang diusung oleh LEH bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengembangan energi terbarukan terapan yang mendukung upaya pengelolaan hutan secara lestari dan peningkatan ekonomi masyarakat setempat.  Adapun kegiatannya meliputi :
  • Mengembangkan energi terbarukan melalui PLTMH Penguatan kapasitas badan pengelola dan badan pengawas PLTMH 
  • Memperkuat kapasitas masyarakat dalam pengelolaan hutan lestari 
  • Meningkatkan kapasitas dan ekonomi masyarakat penerima manfaat.
Sementara hasil yang diharapkan adalah :
  • Keberadaan hutan di sekitar desa dapat dikelola secara lestari dan mendukung penyediaan air bersih, udara yang segar, sumber energi dan pemanfaatan hasil hutan lainnya secara ekonomis dan berkelanjutan.
  • Potensi sumber daya air yang ada disekitar hutan setempat dapat dikelola menjadi energi listrik bagi masyarakat setempat secara berkesinambungan .
  • Energi terbarukan yang dikelola masyarakat dapat mendukung peningkatan ekonomi dan produktivitas masyarakat setempat.
Tentunya seluruh peserta berharap program ini dapat direalisasikan sesuai rencana.  Aamiin.

Kamis, 13 Februari 2014

PLTMH Senebeh

Setelah menunggu sekian lama dengan keragu-raguan yang amat dalam akan keberhasilan pembangunan PLTMH di dusun mereka, maka tepat tanggal 7 Februari 2014 penduduk Dusun Senebeh boleh menarik nafas lega dan bergembira. PLTMH yang sebagian besar mereka bangun dengan dana swadaya masyarakat berhasil menyalakan lampu di dusun mereka.
Mereka patut ragu-ragu, sebab dengan bantuan dana hibah dari PNPM Mandiri Perdesaan sebesar 280 jutaan mereka harus dapat merealisasikan konstruksi PLTMH yang nilainya bisa dua bahkan tiga kali lipat. Keterbatasan dana tersebut membuat Tim Lembaga Energi Hijau (LEH) tertantang untuk memfasilitasi penduduk Dusun Senebeh mewujudkan mimpi mereka.


Salah satu sudut Dusun Senebeh saat belum dipasang jaringan listrik

Dimulai dengan pertemuan di dusun pada bulan September 2013 disusunlah rencana aksi yang diperlukan. Desain konstruksi turut menentukan pilihan biaya yang harus dikeluarkan. Kesepakatan swadaya sangat ditekankan demi keberhasilan proyek. Swadaya terbesar masyarakat adalah material dan tenaga. Material lokal seperti batu dan pasir dibebankan kepada masing-masing KK untuk menyediakannya. Tenaga kerja dibuat dalam kelompok-kelompok yang akan turun bergiliran mengerjakan bendungan intake, saluran pembawa, pipa pesat dan rumah turbin. Sementara memasang jaringan listrik dan instalasi listrik dalam rumah akan dipandu langsung tenaga ahli dari LEH. Swadaya berupa uang untuk instalasi listrik dalam rumah diangsur dalam beberap kali pembayaran. Sementara dana hibah difokuskan untuk turbin, generator, pipa pesat, kabel jaringan utama, semen, aksesoris listrik, ongkos angkut serta bahan-bahan yang tidak tersedia di dusun mereka.
Senebeh adalah salah satu dusun di Desa Sungkung Akit. Meskipun secara adminitratif Sungkung berada si Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Namun satu-satunya akses menuju desa tersebut hanya melalui Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.  Diperlukan waktu tempuh selama 9 jam menggunakan perahu motor tempel menuju Sungkung. Tidak ada jalan darat selain menyusuri perhuluan Sungai Sekayam yang berbatu dan banyak memiliki riam tersebut. Sehingga kabel listrik harus dibuka lilitannya dari gulungan yang besar agar bisa diangkut menggunakan perahu.
 
 Mengangkut material menyusuri sungai

Penduduk Dusun Senebeh yang berjumlah 97 KK sebagian besar adalah petani yang kurang mampu.  Satu-satunya toko sembako adalah milik Pak Dawen yang juga Kepala Dusun Senebeh. Pak Dawen lah yang paling giat menggerakkan warganya demi suksesnya PLTMH Senebeh. Hanya ada 5 buah genset di dusun mereka. Sulitnya mendapatkan solar menyebabkan mereka enggan untuk membeli genset.  Tak ayal mereka merelakan malam-malam di dusun mereka dalam kegelapan. Namun mereka memiliki potensi air terjun Sungai Nyala tak jauh dari dusun mereka.  Kegigihan untuk mendapatkan listrik dengan biaya murah mempertemukan mereka dengan LEH. Sungai Nyala dinilai layak untuk menyalakan listrik penduduk dusun.

Membendung potensi air Sungai Nyala

Kini penduduk Senebeh sudah dapat menikmati listrik selama 12 jam semalam tanpa harus tergantung kepada solar. PLTMH menggunakan turbin type crossflow dengan kapasitas 30 kW telah mengaliri listrik dusun. Terbayar sudah segala kerja keras dan swadaya mereka selama berbulan-bulan. Sekarang tugas utama sekarang mereka adalah memastikan air tetap tersedia sepanjang tahun. Ketersediaan air sangat ditentukan dengan lestarinya hutan sebagai kawasan penyangga air. Tidak lagi mereka membuka ladang di kawasan hutan sepanjang sumber air Sungai Nyala yang jadi penggerak PLTMH. Slogan "Hutan Hilang - Air Pergi. Air Pergi - Listrik Mati" akan selalu mereka ingat.


Senin, 25 November 2013

Sunsong yang Rindu Menyongsong Listrik

Sebagai salah satu desa 'berdaulat' di pedalaman Kalimantan Barat, sangat wajar jika Desa Sunsong juga ingin disejajarkan dengan desa-desa lain terutama dalam mendapatkan akses listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).  Namun apa daya, letak desa yang sangat jauh dari Ibukota Kecamatan plus akses jalan yang hanya bisa diarungi menggunakan kendaraan roda dua membuat harapan desa mereka dialiri listrik PLN sepertinya sulit terwujud, bahkan dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan.

Sebenarnya Desa Sunsong 'hanya' berjarak 30 km dari ibukota kecamatan, tetapi medan jalan tanah yang berlumpur serta berbukitan menyebabkan perjalanan ke desa tersebut harus ditempuh dalam waktu lebih dari 3 (tiga) jam.  Hal ini yang mungkin menjadi salah satu sebab mengapa PLN belum mengalirkan kabel listriknya ke Sunsong.

Desa Sunsong yang merupakan kediaman penduduk asli Kalimantan subsuku Dayak Taman, terletak di sisi timur paling jauh Kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau - Kalimantan Barat.  Dengan dukungan dari Dusun Sunsong, Dusun Saka Tiga dan Dusun Bungkong, maka Desa Sunsong memiliki 275 KK yang begitu merindukan listrik hadir di tengah mereka. Selama ini hanya sedikit dari mereka yang mampu mengandalkan listrik dari genset tenaga diesel berbahan bakar solar, sisanya terpaksa membiarkan rumah mereka diselimuti kegelapan setiap malamnya.

Padahal Penduduk Sunsong memiliki potensi yang besar untuk menjadi Desa mandiri energi. Adalah air terjun Riam Moran yang terletak di samping desa mereka ternyata memiliki energi kinetik yang besar sehingga mampu menggerakkan dinamo listrik dan memenuhi kebutuhan listrik penduduk Desa.  Hal ini terungkap ketika Aban selaku Kepala Desa Sunsong atas inisiasi dari Koperasi Serba Usaha 'Ankara' mengundang Lembaga Enegi Hijau untuk melakukan study kelayakan di lokasi tersebut.



Dengan tinggi terjun sekitar 42 meter serta debit air yang memadai bahkan pada musim kemarau, maka air terjun Riam Moran sangat potensial untuk dijadikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).  Dengan estimasi kebutuhan total listrik yang dibutuhkan oleh penduduk desa adalah 67 ribu watt, maka Riam Moran diperhitungkan mampu menggerakkan dinamo sebesar 100 ribu watt. Hal ini tentunya menumbuhkan harapan yang sangat besar bagi penduduk Desa Sunsong agar listrik segera menerangi desa mereka.


Dalam sebuah pertemuan di desa, seluruh perserta yang hadir bersepakat untuk membangun PLTMH secara swadaya.  Namun kemampuan swadaya mereka hanya terbatas pada penyediaan material lokal seperti batu, pasir, kayu dan tenaga saja.  Estimasi biaya yang besar dalam membangun PLTMH, terutama untuk membeli kabel listrik, turbin dan dinamo serta semen untuk bendungan intake memaksa meredam keinginan mereka. Penduduk desa hanya bisa mempercayakan kepada Kepala Desa, Pengurus Koperasi termasuk Lembaga Energi Hijau untuk mengupayakan pendanaan PLTMH tersebut kepada pemerintah ataupun pihak lain yang bersedia, dengan memandang bahwa pembangunan PLTMH di desa yang terpencil selain turut menyukseskan program pemerintah akan pemanfaatan energi baru yang terbarukan, juga merupakan pintu masuk bagi upaya-upaya pelestarian lingkungan dan keaneka ragaman hayati.  Sebab sejak pertemuan di desa pada malam itu, sudah terpateri di benak penduduk desa bahwa hanya hutan yang lestarilah yang mampu memberikan air yang berlimpah kepada mereka.

Semoga kelak PLTMH akan segera terbangun di desa Sunsong dimana penduduknya sangat rindu menyonsong datangnya listrik di desa mereka.  Imbalan dari semua itu adalah peningkatan kualitas hidup dan ekonomi penduduk desa serta tidak kalah penting adalah kawasan hutan yang terjaga dari upaya-upaya penebangan liar dan pembukaan hutan membabi buta.  Semoga!